Sukses Berkarir, `Jangan Jadi Manusia Biasa`


Oleh: Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, M.Si

(Analisa; Teori Pilihan Rasional)

Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu

Kesuksesan adalah milik anda, milik saya, dan milik siapa saja yang benar-benar menyadari, menginginkan dan memperjuangkannya sepenuh hati.

(Andrie Wongso)

 

Mengawali tulisan ini, kita coba merefleksi kembali kebelakang, ke dunia saat kita masih menyandang status mahasiswa dan saat kita baru mau menyandang status Mahasiswa. Kita mungkin tidak tahu motivasi apa yang mendorong kita semua memilih suatu jurusan tertentu ketika akan mendaftar di Perguruan Tinggi. Bisa jadi kita akan mendalami minat atau hobi yang dimiliki, bisa jadi juga kita hanya mengikuti kemauan orang tua atau saudara, bisa jadi kita hanya ikut-ikutan teman atau pacar, bisa juga karena memandang prospek kerja atau berbagai macam alasan lainnya.

Apapun alasan itu, memang sah-sah saja. Namun, menurut pengamatan saya, apapun motivasi seseorang masuk sebuah Jurusan, satu hal realistis yang tak bisa dihindari adalah pertimbangan akan prospek lapangan kerja jurusan yang bersangkutan. Beberapa pertanyaan yang sering muncul berkaitan dengan hal ini adalah “Setelah lulus mau kemana?” atau “Setelah lulus mau kerja di mana?” atau “Setelah lulus mau jadi apa?” atau “Lulusan jurusan ini atau itu biasanya jadi apa?”

Perlu dicatat, bahwa saat ini sebenarnya banyak perusahaan menerima karyawan bukan semata-mata karena latar belakang pendidikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seorang sarjana teknik akhirnya bekerja sebagai illustrator professional di sebuah media massa, lulusan ekonomi menjadi pemandu wisata, sarjana pertanian menjadi karyawan sebuah Bank sampai akhirnya memegang jabatan strategis dengan gaji jutaan rupiah per bulan, sarjana saatra menjadi manager marketing di sebuah perusahaan multinasional, dan sebagainya. Ya begitulah kenyataannya.

Dengan demikian jurusan yang kita ambil sebenarnya punya peluang yang sama. Syaratnya sangat jelas: kita serius menekuni studi kita, mencintainya, punya keahlian di bidang itu, dan berwawasan luas. Pasalnya, asal tahu saja, banyak perusahaan merekrut sarjana dari jurusan apapun hanya dengan pertimbangan bahwa lulusan Perguruan Tinggi itu akan memiliki kematangan berpikir yang jauh lebih bisa diandalkan dibandingkan dengan jenjang lulusan di bawahnya.

Meskipun demikian, jika kita bekerja sesuai dengan bidang keilmuan yang kita geluti selama kuliah, tentu saja akan lebih baik. Selain bisa menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah, bekerja sesuai dengan bidang keilmuan akan memberikan kepuassan batin yang tak ternilai harganya. Tentu dengan catatan bahwa jurusan yang kita ambil sesuai dengan minat dan bakat yang kita miliki.

Maka, jangan sampai kita membatasi ilmu kita dengan ketat hanya pada bidang yang kita pelajari secara formal di bangku kuliah. Bila ada kesempatan, ada waktu, dan kita punya energi yang cukup untuk itu, pelajari saja. Karena setiap pengalaman baru iru menyenangkan dan memperkaya pribadi kita. Termasuk diantaranya, sekali lagi, adalah ilmu bergaul alias berkomunikasi. Karena komunikasi merupakan salah satu strategi yang paling berpengaruh dalam menentukan kesuksesan dalam bidang apapun termasuk bisnis.

Di lain pihak, bahwa sebuah konsep kemitraan dengan pihak luar harus di bangun oleh sekolah atau perguruan kita. Karena mengembangkan sekolah atau perguruan tidak cukup atas kekuatan sendiri.

Memutuskan untuk memulai bisnis semenjak masih duduk di bangku kuliah atau sekolah adalah sebuah keputusan besar yang kita buat dalam hidup. Namun, barangkali pertanyaan pertama yang akan ada adalah; “kenapa kita harus menjalankan bisnis? Bukankah kita adalah seorang mahasiswa atau seorang pelajar, yang tugasnya adalah belajar dan menyelesaikan masa studi secepat mungkin agar kelak bisa bekerja di perusahaan atau instansi besar pemerintah?”

Saat ini banyak sekali sarjana yang sudah lulus namun belum siap menghadapi dunia kerja. Sebagian besar dari mereka banyak berharap bisa menjadi karyawan perusahaan yang bonafit dengan gaji besar atau berharap untuk bisa diterima menjadi pegawai di instansi pemerintah.

Intinya jika kita menginginkan kebebasan financial, kebebasan waktu dan jaminan hari tua yang lebih baik, kejarlah semua mimpi indah itu mulai dari sekarang.

 Sukses adalah perwujudan progresif tujuan-tujuan yang berharga. Sukses juga bebarti proses terus-menerus menjadi lebih baik, baik secara fisik, intelektual, emosional, sosial, financial, maupun spiritual, sambil berkontribusi secara positif bagi orang lain. Jalan menuju sukses selalu dalam pembangunan. Sukses adalah perjalanan progresif, bukan tujuan akhir yang mau dicapai.

Menurut Dr. Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Higly Effective People terdapat tujuh kebiasaan orang sukses (Jen Hans, 2005) ;

  1. kebiasaan bertanggung jawab
  2. kebiasaan berorientasi pada tujuan. Disini kita perlu menentukan tujuan dalam empat bidang; tujuan pengembangan diri, tujuan kepemilikan, tujuan keuangan, dan tujuan kontribusi.
  3. kebiasaan mendahulukan yang utama
  4. kebiasaan berpikir menang-menang (think win-win), disini membutuhkan kejujuran, integritas, kedewasaan, dan sikap mental berkelimpahan
  5. kebiasaan memahami terlebih dahulu, baru kemudian dipahami
  6. kebiasaan bersinergi
  7. kebiasaan melakukan perbaikan diri secara terus-menerus

Menjadi orang optimis tidak mudah, tapi sulit pun tidak. Tergantung dari bagaimana kita mengelola kemauan kita sendiri. Resep sukses orang Jepang bisa dijadikan sebagai referensi; Pertama, kerja keras, Kedua, malu, Ketiga, hidup hemat. Keempat, loyalitas. Kelima, inovasi. Keenam, pantang menyerah. Ketujuh, budaya baca. Kedelapan, kerjasama kelompok. Kesembilan, mandiri. Kesepuluh, jaga tradisi

Teori Pilihan Rasional

Teori pilihan rasional Coleman tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa “tindakan perseorangan mengarah pada sesuatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi)”. Tetapi Coleman selanjutnya menyatakan bahwa untuk maksud yang sangat teoritis, ia memerlukan konsep yang lebih tepat mengenai aktor rasional yang berasal dari ilmu ekonomi yang melihat aktor memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan atau yang memuaskan keinginan atau kebutuhan mereka.

Ada dua unsur utama dalam teori Coleman, yakni aktor dan sumberdaya. Sumberdaya adalah sesuatu yang menarik perhatian dan yang dapat dikontrol oleh aktor. Coleman menjelaskan interaksi antara aktor dan sumberdaya secara rinci menuju ke tingkat sistem sosial (Ritzer, 2004).

Coleman mengakui bahwa dalam kehidupan nyata orang tak selalu berperilaku rasional, namun ia merasa bahwa hal ini hampir tak berpengaruh terhadap teorinya;”asumsinya adalah bahwa ramalan teoritis dibuat di sini sebenarnya akan sama saja apakah aktor bertindak tepat menurut rasionalitas seperti yang biasa dibayangkan atau menyimpang dari cara-cara yang telah diamati.

Dari penjelasan di atas kita bisa menarik benang merah bahwa manusia untuk mencapai kesuksesannya pasti tidak diam saja. Tentunya ada suatu tindakan-tindakan yang dilakukan. Untuk mencapai tujuan sesuai dengan harapan, maka nilai-nilai dan pilihan diambil manusia dalam tindakannya dengan ditetapkan secara rasional.

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 13 Oktober 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: