Membangun Spirit Berorganisasi Guna Mewujudkan Mahasiswa Yang Progresif


Oleh : Luluk Dwi Kumalasari,S.Sos,M.Si

Pendidikan adalah ujung tombak suatu Negara, tertinggal atau majunya sebuah Negara, sangat tergantung kondisi pendidikannya. Semakin berkembang pendidikan suatu Negara, maka semakin besar dan majulah Negara tersebut. Negara akan maju dan berkembang bila sektor pendidikan sebagai kunci pembangunan menjadi skala prioritas.

Negara besar dan berkembang menyadari bahwa pembangunan sektor pendidikan sangat perlu dinomorsatukan. Pemerintah tidak akan segan-segan menargetkan 30-40 persen dari anggaran belanja Negara untuk sektor pendidikan.

Tentunya kita bertanya untuk negeri ini, apakah mungkin pemerintah memberikan prosentase sebesar itu? Padahal Undang-Undang sudah memberikan rambu-rambu yang merupakan kesepakatan bersama. Bahwa alokasi untuk sector pembangunan pendidikan 20 persen  dari anggaran pendapatan belanja, baik untuk pusat, propinsi maupun kabupaten dan kota. Besaran anggaran itu sebagai salah satu kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Dilihat dari segi pemberian kesempatan untuk memperoleh pendidikan, sebagaimana dituntut oleh pasal 31 ayat (1) UUD 1945, perkembangan pendidikan di Indonesia telah dapat dijadikan contoh bagi banyak Negara berkembang. Karena itu, Presiden Republik Indonesia kedua, Suharto, telah memperoleh penghargaan dari UNESCO melalui Direktur Jenderal UNESCO. Pertanyaannya adalah “ mengapa pendidikan yang relative telah merata tidak mampu melaksanakan fungsi Konstitusionalnya secara relative?”

Fungsi pendidikan nasional, sebagaimana digariskan dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989, dirumuskan dalam kalimat berikut: “Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur, serta memungkinkan warganya mengembangkan diri, baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah, berdasarkan pancasila dan UUD 1945”. Selain itu, pasal 3 Undang-Undang tersebut secara tersurat menggariskan fungsi pendidikan sebagai berikut: “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional”.

Berbagai krisis, yang bermula dari krisis keuangan, memberikan bukti kepada kita bahwa sasaran umum pendidikan nasional, seperti meningkatnya kecerdasan bangsa serta meningkatnya mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia belum tercapai. Hal ini terbukti dari ketergantungan kita pada modal, teknologi, dan keahlian impor, serta masih tingginya presentase rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan dan tingginya angka tuna pekerjaan. Ukuran akhir dari keberhasilan pendidikan nasional ini selanjutnya memunculkan pertanyaan sebagai berikut: “apakah pendidikan nasional tidak dirancang secara sistematis untuk mencapai sasaran tersebut?”

Apabila dilihat dari rumusan tujuan pendidikan nasional dan fungsi setiap jenjang pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 sesungguhnya system pendidikan nasional dirancang untuk tujuan tersebut, sebagaimana dapat dibaca pada kutipan berikut;

  1. Tujuan pendidikan nasional (pasal 4); pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
  2. Fungsi pendidikan (pasal 12 ayat 1), pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.
  3. Fungsi pendidikan menengah (pasal 15 ayat 1), pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseerta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbale balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar, serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.
  4. Fungsi Pendidikan Tinggi (Pasal 16 Ayat (1) ): Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan dari pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat  yang memiliki kemampuan akademik dan atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian.
  5. GBHN 1999-200 : Pendidikan nasional berujuan untuk meningkat kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh , cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja professional,bertanggung jawab, dan produktif, serta sehat jasmani dan rohani.

Dari kutipan tentang tujuan dan fungsi pendidikan nasional tersebut, baik pada tingkatan system maupun jenjang dan kelembagaan, tampak jelas betapa pendidikan nasional diharapkan melahirkan manusia baru yang beraklak, bermoral, berkepribadian, dinamis, dan professional; manusia yang berkualitas yang mampu mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur. Tetapi, ternyata seperti tampak dari kondisi ekonomi, politik, iptek, dan sosial budaya, pendidikan nasional belum bermakna dan belum berdampak seperti yang diharapkan.

Hal ini juga nampak nyata terjadi di kalangan pendidikan tinggi yang seharusnya mampu mencetak peserta didik/mahasiswa yang professional, sukses di akademik, juga sukses dalam pengembangan dan penerapan ilmunya.

Profesionalisme, terutama dalam penerapan kesuksesan setelah mereka lulus, tidak terlepas dari peran-peran yang harus banyak dilakukan oleh mahasiswa saat mereka masih menyandang status ‘mahasiswa’. Mahasiswa yang dimaksud adalah mahasiswa yang aktif, mahasiswa yang selalu bergerak/mobile/progresif, bukan mahasiswa yang tiap hari jalan kehidupannya hanya antara kuliah dan kos.

Keprogresifan mahasiswa sebagai langkah awal kesuksesan hidupnya ke depan, bisa dilakukan melalui banyak jalan; sebagai aktifis (berorganisasi), berbisnis (kuliah sambil kerja), aktif mengikuti perlombaan dan lain-lain. Yang kesemuanya mempunyai maksud dan tujuan baik sebagai pengalaman hidup untuk masa depan.

Terutama melalui organisasi, mahasiswa bisa belajar banyak hal, mempunyai banyak teman/jaringan, lebih bisa menghargai perbedaan dan benturan ideology, dan lain-lain. Organisasi mendewasakan mahasiswa untuk lebih bisa bersikap.

Tetapi kita harus selalu ingat, organisasi sebagai salah satu wadah perubahan mahasiwa untuk lebih progresif, disisi lain juga bisa memberikan dampak yang berbeda (negative). Kita sebagai mahasiswa haris bisa bersikap bijak dalam menaggapi hal itu. Mahasiswa memang harus bergerak sesuai dengan perkembangan zaman, mahasiwa harus mempunyai sikap responsive, kritis, dan tegas.

Sukses atau tidak masa depan kita, ada di tangan kita masing-masing, semua tergantung kita…maju atau mundur!

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 13 Oktober 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: