Memahami Jalan Pikrian Politik Marx: Tidak Cukup The Communist Manifesto!


Communist manivesto telah lengkap dipersiapkan sebagai kerangka aksiologis Marx dalam mencitakan masyarakat sosialis.  The Communist Manifesto memiliki empat bagian. Bagian pertama mendiskusikan sejarah teori komunisme dan perihal hubungan antara kaum proletar dan borjuis. Bagian kedua menjelaskan relasi antara paham komunis dan kaum proletar. Bagian ketiga menunjuk pada karya sastra kaum sosialis. Bagian terakhir mendiskusikan hubungan antara kaum komunis dan partai lainnya.

Namun memahami pemikiran Marx tidak cukup hanya dengan membedah Communist Manivesto. Jika menengok perjalanan partai-partai komunis yang pernah ada, justru banyak pemikiran Marx yang tereduksi, bahkan mengalami penyimpangan. Buku Communist Manivesto yang ditulis Marx bersama Engel ini ternyata belum mampu menjadi kerangka aksiologis politik cita-cita Marx. Ini yang menjadi kesimpulan dalam diskusi rutin Sociology Studies Community (SSC) di kedai Empu Gondrong, JL. Tirto Utomo, Malang, Rabu (7/12). Tema disuksi “Pikiran Marx dalam karyanya: Communist Manivesto” ini membahas secara mendalam serpihan pemikiran Marx dari benua Eropa hingga ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Menurut Faqih Asy’ari pengantar diskusi yang juga merupakan mantan koordinator Jaringan Mahasiswa Sosiologi se-Jawa (JMSJ) wilayah IV Jawa Timur ini, Marx merupakan tokoh penting yang mampu menggabungkan filsafat jerman, determinasi politik Perancis dan pergerakan Kapitalisme di Inggris. Memahami pikiran terbagi dalam beberapa rentang waktu. Pertama adalah melalui karya-karya Marx saat muda. Kedua pemikiran Marx saat bergabung dengan partai komunis – yang diawali oleh karya monumentalnya: Communist Manivesto. Dan yang ketiga adalah saat Marx tua – dengan karya besarnya Das Capital.

Karya Marx muda merupakan awal praksiologi sosialis yang dulu dianggap utopian. Marx berhasil membangun diskursus tentang masyarakat berkelas: proletar dan borjuis. Faktor-faktor produksi hanya dikuasai oleh kelas pemodal dan membuat banyak orang hanya mampu bekerja dengan tenaganya saja. Inilah yang disebut Marx sebagai sumber kemiskinan.

Marx tidak puas berhenti pada teoretisi. Ia mulai membangun diskursus aksiologis. Bersama Hegel Marx membangun kerangka filsafat yang kemudian terkenal dengan filsafat Materialisme Dialektika Historis (1840). Pengaruh Hegel yang kuat pada Marx dilanjutkan dengan menulis buku The Communis Manifesto bersama Friedrich Engels (1848). Marx mencitakan konsepsi sosialis yang dibangunnya benar-benar akan nyata, bukan utopian.

Marx tua ditandai dengan berbagai kontradiksi atas sikapnya. Terlepas dari bagaimana psikologis Marx di usia senjanya, Marx menyatakan dirinya bukan Marxis. Marx sepertinya juga ingin meluruskan kembali konsepsi teori ekonominya lebih determinan pada dua aspek penting, yakni sistem ekonomi dan politik. Pada rentang usia senja ini Marx berhasil menyelesaikan satu buku monumentalnya: Das Kapital (1867).

Kekuatan pendorong utama kapitalisme, menurut Marx, terdapat dalam eksploitasi dan alienasi tenaga kerja. Sumber utama dari keuntungan baru dan nilai tambahnya adalah bahwa majikan membayar buruh-buruhnya untuk kapasitas kerja mereka menurut nilai pasar, namun nilai komoditi yang dihasilkan oleh para buruh itu melampaui nilai pasar. Para majikan berhak memiliki nilai keluaran (output)yang baru karena mereka memiliki alat-alat produksi (kapital) yang produktif. Dengan menghasilkan keluaran sebagai modal bagi majikan, para buruh terus-menerus mereproduksikan kondisi kapitalisme melalui pekerjaan mereka.

Untuk itu Haris menuturkan bahwa memahami Marx bisa dilihat dari prespektif Akademisi dan politisi. Pada ranah akademisi Marx menelurkan berbagai macam karya, termasuk teorinya yang membahas bahwa yang menggerakkan kita bukanlah kesadaran. Justru realitaslah yang membentuk kesadaran dan menggerakkan kita. Kesadaran yang dibangun Marx ini memunculkan teorinya tentang kesadaran kelas.

Marx melakukan pembedaan antara dimensi obyektif dan subyektif antara kepentingan kelas. Kesadaran kelas merupakan satu kesadaran subyektif akan kepentingan kelas obyektif yang mereka miliki bersama orang-orang lain dalam posisi yang serupa dalam sistem produksi. Konsep “kepentingan” mengacu pada sumber-sumber materil yang aktual yang diperlukan kelas untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan individu. Kurangnya kesadaran penuh akan kepentingan kelas sangat berhubungan dengan penerimaan yang berkembang untuk mendukung kelas dominan dan struktur sosial yang ada. Pengaruh ideologi inilah yang memunculkan “kesadaran palsu”.

Untuk memberikan semangat aksiologi dari berbagai kegiatan epistimologi yang sudah dilakukan Marx, maka Marx membutuhkan kerangka aksiologis. Periode inilah masa penting saat Marx menenggelamkan dirinya melalui jalur politik. Ikhtiar itu Marx mulai dengan bukunya: The Communist Manifesto. Marx benar-benar hanyut bersama pengikutnya untuk menciptakan dealektika (pertentangan) praksis Kapitalis dengan mengusung semangat baru: komunis.

Jalan politik Marx bersama gerbong Marxisnya berkembang massif melawan berbagai penindasan eksplotatif yang dilakukan kapitalis. Komunis disambut dengan berbagai harapan perubahan. Di Indonesia partai komunis memulai pemberontakan-pemberontakan bersama kaum buruh pabrik gula tebu di Sumatra untuk menentang pemerintahan Hindia Belanda. Dari para aktor komunis ini jalan perjuangan kemerdekaan Indonesia mulai dibangun.  “Ini membuktikan bahwa bangunan teori Marx bukan utopis. Ini aksiologis, praksis, bisa dilakukan,” ujar Bakri, peserta diskusi dari jurusan Ekonomi yang berminat hadir pada diskusi teman-teman Sosiologi yang tergabung dalam SSC.

Tidak hanya di Indonesia. Gerbang perubahan dari propaganda The Communist Manifesto lebih massif berkembang di Uni Soviet dan China. Negara-negara kecil berpaham komunis juga bermuculan seperti di Vietnam, Korea Utara, Veneuzela dan Kuba.

Namun begitu, perlahan perkembangan komunis tersendat dan lantas tersungkur dilindas kapitalis yang semakin adaptif. Ada banyak kritik disampaikan peserta diskusi untuk Marx pada konteks praksiologi komunis. “Banyak negara komunis merpresentasikan dirinya yang diktator, anti perubahan, ketakutan luar biasa dengan jatuh kembali di tangan kapitalis. Akibatnya justru ada negara komunis yang juga bertindak kapitalis pada kepentingan politik luar negerinya. Ini kan sama-sama menajajah juga,” kata Ghofur, moderator yang akhirnya ikut berpendapat.

Lugas Wicaksono yang juga mantan ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASOS) UMM berpendapat bahwa kegagalan komunis di Indonesia disebabkan oleh banyak hal. Yang pertama adalah ketidak sabaran komunis. Mendapat kesempatan karena kedekatannya dengan Sukarno membuat komunis merasa besar dan bertindak diluar hitungan prediksi yang logis. Pemberontakan-pemberontakan dilakukan, hingga berniat mensenjatai petani dan buruh.

Kegagalan komunis juga disebabkan dengan kontradiksinya secara langsung dengan para priyai dan kyai. Lugas menyampaikan, bahwa tidak semata propaganda yang menghakimi komunis sebagai ateis. Tetapi program Land Reform yang digagas oleh komunis telah mengganggu para kaum priai dan kyai yang rata-rata memiliki tanah dan sawah luas. Padahal banyak  masyarakat menggantungkan kehidupannya kepada priai dan kyai tersebut, baik kehidupan ekonomi maupun spiritual. Gesekan kepentingan ini yang kemudian melahirkan perang saudara antara kalangan santri dan kaum buruh tani komunis.

Namun yang perlu dicatat, memahami Marx tidak hanya termaktub dalam kegiatan-kegiatan para komunis. “Marx mencetuskan teori perlawanan terhadap kapitalisme. Pikiran Marx ini juga telah membantu kerangka pisau analsis kita. Lahirlah sosok Ali Syari’ati yang gagah berani dan berhasil menggulingkan Pahlevi. Lahirlah sosok Hasan hanafi di Mesir. Mereka bukan Marxis, mereka bukan komunis. Tapi Marx juga sangat berpengaruh pada kehidupan mereka,” tutup pengantar diskusi agar kita tidak terjebak memahami Marx dalam determinasi komunis semata.

Diskusi SSC

Waktu              :Rabu 7 Desember 2011

Tema               :Pikiran Marx dalm The Communist Manifesto

Tempat            :Lantai 2 kedai kopi EmGe dimulai pukul 19.00 – 22.00

Pemateri         :Faqih Al Asy’ari

Moderator       :Gofur

Notulen           :Lugas Wicaksono

Peserta  :

Sentot Tri A., Gagas, Firman A., Bakri, Haris Samsuddi,Faris, Silva, Nurul Fitrianty, Ibnu Hajar, Fauzul, dan Alwi.

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 8 Desember 2011, in Konflik, Sosiologi Klasik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: