Membedah Pemikiran Emile Durkheim


Diskusi yang telah berjalan pertemuan ke empat ini merupakan lanjutan dari diskusi sebelumnya yang berbicara tentang pemikiran Auguste Comte. Diskusi ini di ikuti dengan antusias oleh audiens yang merupakan mahasiswa sosiologi UMM dengan latar belakang berbagai angkatan mulai dari angkatan 2008 – 2011. Mereka seakan haus ilmu dan akan terus belajar dan belajar terus bersama dengan penuh semangat. Tidak ada yang merasa paling pintar dan tidak ada yang paling bodoh. Tidak ada guru dan tidak ada murid. Sama rata dan sama rasa. “Perbedaan itu seperti pelangi yang menjadi indah dengan beraneka ragam warnanya” (Marjuki).

Diskusi SSC, Rabu 16 Nopember 2011

Di lantai 2 kedai kopi EmGe dimulai pukul 19.00 – 22.00

Pemateri          : Marjuki

Moderator       : Gofur

Notulen           : Lugas Wicaksono

Peserta  :

M. Akmal, Senis H.S.F, Rifan A., Sentot Tri A., Gagas, Firman A., Bang Jack, Haris Samsuddi, Jul Aslan, Faris, Dayat, Fakri, M.Se., Nurul Fitrianty, Ibnu Hajar, Fauzul, dan Alwi.

Hasil Notulensi diskusi

Rifan  : Saya masih kurang paham dengan penjelasan pemateri tadi mengenai korelasi antara ilmu dengan agama menurut teori Emile Durkheim. Apakah orang yang berilmu tidak harus beragama?

Marjuki (pemateri): Emile Durkheim memaparkan jika fungsi Bergama sebagai integrasi social. Ilmuwan – ilmuwan  pada saat itu juga memperc ayai agama. Tetapi di sini bagaimana mereka pada saat itu mengkritisi agama untuk memperkuat teori. Agama juga memiliki batasan – batasan. Mereka mempelajari agama bukan pada syariatnya (istilah Islam) tetapi lebih pada fungsi sosialnya.

Haris   : Masih sedikit dari pemikiran Durkheim yang dibahas dalam diskusi saat ini. Hanya berkutat pada permasalahan agama dan suicide (bunuh diri). Pertanyaan, sosiologi berhubungan dengan filsafat, Durkheim kemudian membentuk disiplin ilmu sosiologi sebagai cabang dari ilmu filsafat. Nah, apa yang menjadi cirri khas pemikiran fungsionalis Durkheim?

Marjuki (pemateri): Kenapa hanya sedikit pemikiran Durkheim yang dibahas, karena ini hanya dari hasil pemahaman saya subyektif tentang pemikiran Durkheim. Dan saya juga berharap dari teman – teman untuk berbagi pemahaman apabila ada yang mempunyai pemahaman lebih tentang pemikiran Durkheim ataupun pemikirannya yang lain yang masih belum dibahas dalam diskusi ini. Filsafat menurut saya adalah orang – orang yang berpikir. Filsafat sendiri sejarahnya mempengaruhi perkembangan cabang – cabang ilmu lain pada saat itu, seperti disiplin ilmu sosiologi. Dengan berpikir radikal kita sudah berfilsafat. Bagaimana kita memberikan conclusion di situ. Satu pemikiran universal memberikan pemikiran filsafat untuk kita dapat menyelesaikan permasalahan social. Durkheim kenapa lebih condong kepada fungsisonalis karena terinspirasi dengan pemikiran tokoh terhadulu yakni Auguste Comte dan Herbert Spencer. Agama yang dimaksud oleh Durkheim adalah ketika agama berpengaruh terhadap integrasi social pada masyarakat.

Sentot : Mengapa  Durkheim mengkaji tentang agama, karena orang – orang klasik dasrnya adalah agama. Dan kenapa pemikiran – pemikiran yang berkembang saat ini sudah lepas dari agama karena sudah terpengaruh modernisasi. Agama bisa berfungsi sebagai pemersatu masyarakat. Dan juga pada saat itu agama sebagai akar munculnya teori – teori.

Fauzul            : Pertanyaan, tuntutan dari teori Durkheim seperti apa, bagaimana prakteknya sekarang, dan teori tersebut sesuai apa tidak untuk mengkaji realitas social di Indonesia?

Haris   : Pertanyaan saya masih belum terjawab, dari sekian banyak tokoh yang menganut fungsionalisme, apa perbedaan dengan tokoh fungsionalis yang lain, atau dengan kata lain apa cirri khas Durkheim?

Marjuki (pemateri): Ciri khas pemikiran Durkheim adalah pemikirannya itu sendiri. Pada saat itu masyarakat Prancis sangat patuh kepada agama. Dan adanya polemic pada masyarakat yang lebih militaris karena bentuk dari masyarakat yang agamis itu tadi. Agama bukan tidak berdiri sendiri dari masyarakat tetapi agama terbentuk dari factor konflik juga. Ciri khas lain adalah teori suicide.

Gofur  : Menambahi, ciri khas teori Durkheim, beliau ingin melepaskan diri dari filsafat dan psikologi untuk kemudian menjadi disiplin ilmu sendiri yakni sosiologi dengan fakta sosialnya.

Marjuki (pemateri): lebih sepakat kalau orang itu bingung, maka ketika bingung orang itu akan berpikir. Menanggapi pertanyaan dari fauzul, tuntutan dari teori Durkheim, kita sebagai mahsiswa yang diharuskan mempelajari dan memahami teori tersebut untuk kemudian mempratekkannya dengan realitas social yang terjadi di sekitar kita saat ini.

Fauzul            : saya butuh bukti konkritnya penerapan teori Durkheim terhadap realitas social yang terjadi saat ini dan tidak hanya sekedar berkutat diwacana saja?!

Marjuki (pemateri): Saya sudah jelaskan diawal tadi terkait dengan fungsi teori Durkheim terhadap realitas social yang terjadi di Indonesia saat ini. Bagi saya teori Durkheim masih valid jika digunakan untuk mengkaji permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini. Jika ada yang tidak sepakat dengan pendapat saya butuh pendapat dengan rasionalisasi yang tepat.

Ricky  : Saya sepakat jika agama dapat menimulkan konflik. Yang bicara agama siapa dulu? Durkheim adalah seorang Yahudi, dan Yahudi dalam sejarahnya bertentangan dengan Islam, jadi teori Durkheim tentang agama tidak cocok kita terapkan sebagai umat Islam. Tidak ada konflik hidup akan monoton. Agama itu takdir.

Fakri   : Saya tidak sepakat dengan pemateri terkait suicide. Durkheim orang yang taat beragama, dan kecenderungan orang yang taat beragama untuk bunuh diri itu sangat rendah. Durkheim membuat teori tentang suicide agar ketaatannya diabaikan oleh masyarakat.

Alwi    : Saya tidak sepakat dengan pemateri jika realitas social yang terjadi saat ini dikembalikan kepada kita untuk mengurusinya, itu pikiran subyektif saya. Teman – teman melihat realitas agama dengan keyakinan ataukah dengan ilmu? Agama pada hakekatnya kita memaknainya harus dengan ilmu bukan dengan keyakinan. Kalau kita memaknainya dengan keyakinan maka yang terjadi adalah kita merasa bahwa agama kita yang paling benar dan dapat menyebabkan konflik antar umat beragama, karena sama- sam menganggap bahwa keyakinannyalah yang paling benar. Seperti konflik yang terjadi di Ambon. Sedangkan jika kita memaknainya dengan ilmu maka kita akan berpikir logis bahwa agama itu beraneka ragam dan tidak mempermasalahkan perbedaan.

Marjuki (pemateri) : Menanggapi Alwi, jangan memandang agama secara subyektif karena tidak akan bertemu, sebab pandangan dari banyak orang pasti berbeda. Durkheim mengkaji suicide karena banyak kasus bunuh diri yang terjadi pada saat itu. Menanggapi Ricky, teori Durkheim pada saat itu sangat berbeda dengan agama Islam, karena pada saat itu belum ada yang namanya agama Islam.

Haris   : Saya kurang sepakat dengan versi agama Durkheim. Agama sebagai sumber konflik itu keliru. Konflik terjadi karena integrasi social dari masyarakat yang mengatasnamakan agama.

Fakir   : Jangan memposisikan Islam sebagai agama. Jika kita memposisikan Islam sebagai agama tidak aka nada jawaban. Islam seabiknya kita posisikan secara sosiologis. Bagaimana Islam berfungsi terhadap realitas social yang terjadi di masyarakat.

( Gofur sebagai moderator menghimbau kepada audiens agar forum tidak melebar ke persoalan agama, dan perlu kembali ke tema diskusi yakni mengenai pemikiran Durkheim)

Marjuki (pemateri): Durkheim memaknai agama bukan dari aspek agamanya, tapi lebih pada aspek masyarakatnya. Beliau tidak memandang bahwa agamanya paling benar, tidak juga agama sebagai sumber konflik. Tetapi lebih menekankan pada integrasi social agama tersebut. Bagimana masyarakat memandang agamanya. Kajian Durkheim tentang agama lebih kepada kajian sosiologisnya.

Fakri   : Durkheim frustasi karena terinspirasi dengan anaknya yang mati sehingga beliau mencetuskan teori suicide. Sedangkan terkait dengan agama, Islam tidak membatasi hak-hak manusia untuk beragama.

Fauzul            : Kalau pertemuan berikutnya jangan masalah agama lagi ya?! (disambut dengan gelak tawa forum)

Marjuki (pemateri): Diharapkan kita membahas agama lebih kepada aspek sosiologisnya. Diskusi ini tidak ditarik kesimpulan karena agar teman – teman terus mempelajari teori Durkheim di lain kesempatan dan tidak sebatas selesai di forum ini. ( sambil mengakhiri diskusi)

Gofur sebagai moderator menutup forum diskusi.

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 17 November 2011, in Sosiologi Klasik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: