Agust Comte dan Pikirannya Tentang Masyarakat


Oleh: Abdul Aziz
Kontribusi dari Pelaku Sejarah Jaringan Mahasiswa Sosiologi se-Jawa (JMSJ) dari Universitas Brawijaya

  1.  Konteks sosial dan Intelektual Agust Comte

 Aguste  Comte lahir dari Montpellier berasal dari keluarga bangsawan tetapi keluarga mereka tidak menunjukkan kebangsawanan. Comte mengalami banyak hal pergolakakan ditempatnya belajar di Ecole Polytechnique baik dalam bidang politik maupun sosial sebagai seorang pemberontak dia meninggalkan politeknik setelah 2 tahun . Hal ini diawali oleh pemecatan seorang mahasiswa yang menentang Napoleon.

Aguste Comte di angkat sekertaris oleh Saint Simon, keduanya saling melengkapi karakteristik yang berbeda. Saat di bawah Simon, comte sangat mengagumkan sehingga dirinya di pandang sebagai intelektual di prancis. Namun disebabkan penerbitan sistem politik positif dengan perdebatan mengenai kepengarangan bersama akhirnya hubungan persahabatan ini retak setelah 7 tahun. Berikutnya lelaki yang lahir 19 januari 1789 ini mengalami gejala paranoid bahkan dia pernah masuk rumah sakit jiwa dan dipulangkan tanpa kesembuhan. Ia pernah berusaha bunuh diri namun tidak berhasil.

Ketika sedang mengembangkan filasafat positifnya dia menikahi mantan pelacur caroline massin. Caroline meninggalkan comte karena kasarnya perilaku comte dan tidak ada penghargaan dari comte yang telah sabar merawat ia sampai sembuh. Setelah menerbitkan enam seri buku filsafat positif (course of positive philosophy) ditahun 1830-1842. dia menemukan wanita yang sungguh luar biasa di matanya pada tahun 1844 wanita sempurna itu adalah chothilde de vaux namun kisah cinta ini tidak jauh beda dengan caroline. Chotilde membalas cinta Comte sebagai persahabatan, tidak berhenti sampai di situ chotilde meninggal dunia di usia perkenalan yang sebentar, dia  mengidap TBC . sejak itu dia bersumpah akan membaktikan dirinya demi mengenang bidadarinya. Dari kefrustasianya itu tulisan tulisan comte terlihat berbeda. dalam “system of positive politics” gagasannya didasarkan pada bahwa kekuatan yang sebenarnya mendorong orang dalam kehidupan adalah perasaan bukan intelegensi. Bahkan dia mengutarakan organisasi di dasarkan cinta murni bukan pada ke egoisan individu yang hanya memikirkan kehormatan semata. Untuk mewujudkantujuan tersebut maka perlulah didirikan agama baru sebagai panutan yaitu agama humanitas untuk mengubah diri dari keegoisiaan menjadi altruisme, juga tidak membenarkan ajaran tradisional supernaturalistik sehingga agama ini berkiblat pada standart intelektual .

 2.      Hukum Evolusi Masyarakat Menurut Aguste Comte

 Comte memandang bahwa masyarakat sebagai kesatuan di mana perkembangan akal budi manusia yang evolusioner.  Akal budi ini bekembang dengan sendirinya secara bertahap dan merupakan proses alam yang tidak terelakkan dan terhentikan. Evolusi ini dikuasai oleh suatu hukum universal yang berlaku bagi semua orang dimanapun dan kapanpun.

Ia membagi tahapan evolusi itu menjadi tiga tahapan yaitu teologis, metafisik, dan tahapan positif.

1. Tahap Teologis

     Tahap ini merupakan periode terlama dalam sejarah. Karena awal mula pekembangan akal budi memakai gagasan keagamaan yang belum adanya penguasaan atas makhluk lain. Tahap inipun dibagi menjadi tiga periode :

a. Periode Fetisisme

Bentuk pemikiran masyarakat primitif kepercayaan atas roh-roh atau bangsa halus yang turut hidup bersama kita. Ini terlihat pada zaman purba dimana diadakan upacara penyembahan roh halus untuk meminta bantuan maupun perlindungan.

 b. Periode Politeisme

Periode ini masyarakat telah percaya akan bentuk para penguasa bumi yakni para dewa-dewa yang terus mengontrol semua gejala alam.

 

c. Periode Monoteisme

Semakin majunya pemikiran manusia, pada periode terakhir ini muncul kepercayaan akan satu yang tinggi pada abad pertengahan. Kepercayaan akan Tuhan yang berkuasa penuh atas jagad raya, mengatur segala gejala alam dan takdir makhluk.

 2. Tahap Metafisik

Tahap transisi dari teologi ke tahap positif. Dimana segala gejala sosial terdapat kekuatan yang dapat terungkapkan (ditemukan dengan akal budi). Namun disini belum adanya verifikasi. Mekipun penerangan dari alam sendiri tapi belum berpangkal pada data empiris. Jadi, bisa dikatakan masih pergeseran cara berpikir manusia.

 3. Tahap Positif

       Ditahap ini gejala alam dijalaskan secara empiris namun tidak mutlak. Tapi pengetahuan dapat berubah dan mengalami perbaikan seiring intelektual manusia sehingga dapat diterapkan dan dimanfaatkan. Akal budi penting tapi harus bedasarkan data empiris agar memperoleh hukum-hukum baru.

Disampaikan dalam diskusi Sociology Studies Community (SSC) dengan tema “Berbicara Sosiologi ala Auguste Comte”, Rabu 26 Oktober 2011 di kedai Em.Ge Tirto Utomo, 19:00 WIB

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 26 Oktober 2011, in Fungsionalisme, Sosiologi Klasik, Sosiologi Modern and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: