Mengapa Memilih Sosiologi?


Oleh: Faqih Al Asy’ari.

Mengapa memilih Sosiologi sebagai pilihan jurusan kuliah yang kita ambil sebenarnya sering tidak mempunyai alasan yang pasti. Bahkan saat SMA banyak diantara kita benar-benar kurang menyukai mata pelajaran ini. Terkadang alasan kita sederhana, atau seharusnya kita sebut sepele: yang penting kulian di Malang, atau di UMM. Sementara memang ada sebagian dari kita yang benar-benar berminat pada jurusan ini, berangkat dari ketertarikannya pada kehidupan sosial.

Untuk itu, yang utama harus kita ketahui bahwa sesungguhnya mempelajari Sosiologi seperti sedang menjalani proses penjelajahan yang menakjubkan, begitu tulis James M. Henslin pada bukunya: Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Benar saja, di ruang Sosiologi ini kita diajak untuk berkelana memburu kepingan informasi sebagai perangkat analisis yang saling terkait dan membentuk satu kajian yang terkenal dengan sebutan prespektif Sosiologi.

Ya, Sosiologi menawarkan suatu perspektif atau suatu pandangan mengenai dunia. Di ruang-ruang Sosiologi kita bisa merasakan diri kita berada di tengah-tengah kaum Nazi Jerman, duduk bersama dengan para pejuang dunia dari Amerika Latin seperti Hugo Chavez, mengangkat bahu bersama dengan para pejuan kemerdekaan seperti Sukarno, Tan Malaka, HOS. Cokroaminoto dan lain-lain, atau kita bisa merasakan duduk bersama di tengah-tengah para anak bangsa yang berkeliaran di jalanan, di tengah-tengah orang miskin kelapran atau para pengangguran di desa-desa, atau melakukan keja aktif bersama dalam berbagai persoalan sosial. Dengan prespektif Sosiologi ini kita bisa menjelajah kemanapun, membuka ruang informasi dan membongkar konstruksi sosial yang ada.

Prespektif Sosiologi (Sociological perspectuve) menekankan pada konteks sosial dimana manusia hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia. berbagai pertanyaan yang mendasari perspektif Sosiologi ini adalah bagaimana kelompok mempengaruhi manusia, khususnya bagaimana manusia dipengaruhi masyarakat (society) – sekelompok manusia yang memiliki wilayah dan kebudayaan bersama[1].

Untuk mengetahui itu, para Sosiolog mempelajarin lokasi sosial (social location). Para Sosiolog melihat bagaimana pekerjaan, pendidikan, gender, usia, ras-etnisitas mempengaruhi ide dan perilaku manusia.

Secara bertahap kita belajar dan mengumpulkan informasi mengenai semua kajian itu. Hanya dengan mempelajarinya secara bertahap kita dapat melihat bagaimana kepingan informasi itu selalu mempunyai hubungan. Karena itu mempelajari Sosiologi membawa resiko pada perubahan cara berfikir pada berbagai sudut pandang kita sebelumnya. Resiko perubahan paradigm ini bisa jadi merupakan proses pencerahan (renaisans) sebagaimana sejarah awal kajian ilmiah Sosiologi dihadirkan pada ranah sosial.

Asal Usul Sosiologi

George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam “Modern Sociological Theory” (2003) menjelaskan, bahwa ada kecenderungan masyarakat dunia  menganggap sosiologi sebagai fenomena Barat. Anggapan ini mendekati kebenaran jika historis kita mengacu pada terbentuknya kata “sosiologi” sebagaimana yang dijelaskan oleh Auguste Comte, sosok yang disebut sebagai Bapak Sosiologi.

Akan tetapi kajian atas realitas sosial sesungguhnya sudah berlangsung lama, jauh sebelum kemunculan Sosiologi menjadi kajian ilmiah akademis. Perbincangan mengenai masyarakat ini seperti yang terjadi di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM. Pada saat itu istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat). Bahkan jauh sebelum itu, istilah demokrasi ditemukan oleh penduduk Yunani, bentuk sederhana dari demokrasi telah ditemukan sejak 4000 SM di Mesopotamia. Ketika itu, bangsa Sumeria memiliki beberapa negara kota yang independen. Di setiap negara kota tersebut para rakyat seringkali berkumpul untuk mendiskusikan suatu permasalahan dan keputusan pun diambil berdasarkan konsensus atau mufakat.

Sebetulnya Abdulrahman Ibnu Khaldun (1332-1400) telah lebih dulu mengajarkan ilmu tentang masyarakat kepada para mahasiswa atau santrinya di Universitas Al Azhar, Mesir, yang merupakan universitas tertua di dunia. Barulah kemudian pada tahun 1842 Auguste Comte (1798-1857) memberi nama bagi ilmu tentang masyarakat ini dengan sebutan “sosiologi”. Pendapat yang senada sebelumnya telah disampaikan oleh Bjorn Eriksson (1993).

Sejarah di atas mencatat bahwa kajian Sosiologi telah berlangsung lama karena kedekatannya dengan kajian social dan filsafat. Namun begitu Sosiologi baru menjadi sebuah kajian akademis yang utuh saat Auguste Comte menyuguhkan teorinya, bahwa kajian social harus dibedah secara ilmiah. Konsepsi Comte ini sejalan dengan berkembangnya science pada ilmu-ilmu alam. Bagi komte, kajian social juga harus mengikuti kaidah ilmiah.

Pemandangan Comte terlihat dalam penjelasannya mengenai ilmu pengetahuannya bahwa kajian social harus ada tata yang jelas mengedepankan keteraturan sosial dan kemajuan perkembangan serta pemikiran masyarakat ke arah positif. Sebagai seorang ilmuwan Comte mengharapkan sesuatu yang ideal. Pemikiran Copmte ini pada satu sisi berbenturan dengan realitas sosial yang menginginkan perubahan sosial secara cepat, revolusi sosial.

Beberapa pengertian tentang Sosiologi antara lain:

  1. 1.       The scientific study of the nature and development of society and sicial behavior” – Oxford Advanced Learner’s Dictionary.
  2. 2.       “Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial (ekonomi, keluarga, dan moral) dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain” – Pitirim Sorokin
  3. 3.       “Sosiologi adalah ilmu yangmempelajari hubungan antara manusia dlm kelompok” – Roucek dan Warren
  4. “Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial” – Max Weber
  5. 5.       “Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses social termasuk perubahan sosial” – Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
  6. “Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat” -Soejono Soekamto.
  7. “Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu” –Emile Durkheim.

Lantas, bagaimana menjawab pertanyaan kita sendiri: Mengapa Memilih Sosiologi? Pertanyaan itu terjawab saat kita secara bertahap mau mempelajari Sosiologi dengan sungguh-sunguh dan sabar. Kajian social masyarakat sebagai instrument utama dalam tiap kajian social beserta teori-teori yang ada di dalamnya membuka ruang nalar kita akan berbagai tatanan social, lebih-lebih di tengah berbagai kompleksitas persoalan yang melanda Negara kita. Arti penting kajian Sosiologi dalam perjalanan sejarah social dunia di atas juga menjawab pertanyaan itu.


[1] Henslin, James M. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi Edisi 6 Jilid 1. Erlangga. 2007

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 14 September 2011, in Definisi, Fungsionalisme, Pencerahan, Sosiologi Klasik, Sosiologi Modern. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. mantab ki mas. . .
    dperbnyak trus sam artikel” kyak gini..

  1. Ping-balik: Mengapa Memilih Sosiologi? « Faqih Al Asy'ari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: