Belajar dari Kasus Nyontek Massal


Faqih Al Asy’ari

Sosiologi 08

Nyontek massal siswa SD sedang ramai diperbincangkan, tidak kalah massif dengan pemberitaan korupsi. Yang terungkap di media setidaknya sudah ada tiga SD, yakni SDN Gadel II Surabaya, SD Negri 06 Petang Jakarta Selatan dan baru-baru ini sebuah SD Negri di Semarang (yang terakhir saya kurang tahu persisnya, lupa). Tetapi menteri pendidikan M. Nuh menyatakan nyontek massal itu tidak terbukti. Ia membuktikan itu dengan variasi nilai UNAS siswa sekolah SDN Gadel. Kalau saya lebih percaya bahwa nyontek massal itu benar-benar ada, didesain oleh sekolah bersangkutan. Seperti apa alasannya? Saya menyimpulkan ada tiga.

Pertama, saya percaya bahwa anak-anak adalah orang paling jujur di dunia ini. Terkait ini, mari kita simak kronologi terungkapnya kasus contek massal ini, dan bagaimana terkait psikologi, motif dan perilaku anak-anak.

Terungkapnya kasus nyontek massal di SDN Gadel ini setelah Ahmad Maulana (Aam) bicara ke ibunya, Siami, bahwa dia diminta memberi contekan kepada teman-temannya. Aam gak bisa berbuat banyak, ia nurut perintah gurunya. Sedangkan di SDN 06 Petang Jakarta Selatan, kasus contek memcontek ini diungkanpkan oleh Abrary. Beda dengan Aam, Abrary menolak perintah gurunya untuk memberikan contekan pada teman-temannya.

Pertanyaan saya, bohongkah anak-anak itu? Kalau mereka bohong, dari mana imajinasi dan fantasi mereka tentang nyontek bareng-bareng? Padahal di usia SD anak-anak sedang giatnya melakukan pembelajaran moral, belajar tentang apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui orangtua dan guru-gurunya. Anak-anak mulai membangun rasa bersalah jika melakukan tindakan yang tidak semestinya.

Pada usia SD, anak-anak memang dimungkinkan bohong, tapi itu dilakukan untuk menghindari ketidaksetujuan orangtua, yaitu takut mendapat hukuman. Misalnya karena orangtua atau gurunya selalu memarahi anak karena berkelahi, maka sang anak berbohong. Jika mengaku berkelahi, sang anak khawatir akan dihukum, mendapat jeweran atau kesulitan.

Justru rasa bersalah itulah yang membuat Aam bicara kepada ibunya. Selama ini ia diajarkan ketidaksetujuan orang tua dan guru-gurunya untuk mencontek. Ia diajarkan kejujuran sebagai perbuatan baik. Tetapi saat UNAS, tiba-tiba ia disodorkan perintah yang bertolak belakang. Aam sejujurnya ingin bertanya pada ibunya, apakah pada saat-saat tertentu seperti UNAS itu nyontek diperbolehkan? Apakah kejujuran boleh ditanggalkan pada saat-saat tertentu?

Selain karena takut kena marah, kebohongan anak-anak biasanya dilakukan untuk melindungi privasi, membangun independensi, dan menghindari kebingungan. Misalnya anak-anak bilang paham saat ditanya tentang pelajaran, karena sebagian besar temannya mengatakan paham. Ia bohong karena ingin melindungi citra dan independensinya.

Perilaku bohong anak-anak biasanya juga dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan jika mengatakan yang sebenarnya. Misalnya meminta uang untuk membeli mainan, ia bilang untuk membeli buku agar diberi. Si anak bilang untuk membeli buku karena takut tidak diberi jika bilang jujur untuk beli mainan.

Sangat sederhana bukan? So, sangat sulit dipercaya jika Aam bohong saat bercerita pada ibunya bahwa ia diminta untuk memberikan contekan massal. Tapi apap pasal, akibat keberaninnya kini malah Aam dan keluarganya harus mengungsi dari Surabaya ke Gresik. Kata media para tetangganya marah. Mungkin Aam dan keluarganya dianggap penghianat, tidak punya solideritas, toleransi, atau unggah-ungguh kejawaan: teposeliro. Tapi kalau benar Aam pergi karena intimidasi para tetangganya yang merupakan orang tua teman-teman Aam itu, lantas siapa yang gak punya teposeliro?

Kedua, terkait dengan pernyataan menteri pendidikan bahwa nyontek massal itu tidak terbukti. Benarkah tidak ada bukti yang menunjukkan contek massal itu terjadi? Atau jangan-jangan sekarang malah M. Nuh yang berbohong?

Jika melihat yang disampaikan M. Nuh, memang susah mencari barang bukti. Satu-satunya bukti yang tersisa adalah dengan menyelidiki hasil lembar jawaban siswa. M. Nuh menyampaikan bahwa jawaban siswa bervariatif. Kesalahan pernomernya juga berbeda-beda, begitupun dengan jumlah kesalahan masing-masing siswa. Dengan demikian, M. Nuh menyimpulkan bahwa contekan bareng-bareng itu tidak terjadi, atau lebih tepatnya gagal. Instruksi guru dan formulasi contek massal itu memang ada, tetapi gagal diterapkan di lapangan.

Tetapi saya punya pendapat tentang pernyataan M. Nuh. Menurut saya beliau sengaja menutupi kasus ini untuk meredam konflik horisontal yang terjadi dengan keluarga Aam dan para tetangganya. Perintah contekan memang terjadi sebagaimana yang dilaporkan Aam kepada ibunya, lalu dibawa ibunya sebagai kasus pendidikan yang menghebohkan. Tapi rencana contek massal itu gagal diterapkan di lapangan. M. Nuh sengaja berbohong untuk menutup kasus ini, mengingat pemberitaan media pastinya juga membuat warga desa Gadel tertekan dan takut akan dampak yang kurang baik untuk anak-anak mereka. Jika benar demikian, pada konteks ini, kebohongan M. Nuh apakah dibenarkan?

Ketiga terkait erat dengan fenomena UNAS yang selalu sejalan dengan berbagai kecurangan. Ini klasik. Dari awal UNAS selalu muncul temuan lapangan yang menghebohkan dengan berbagai modus. Mengapa terus terjadi? Rasanya momok UNAS ini masih menjadi penjagal peradilan pendidikan. Untuk persoalan yang klasik ini saya tidak ingin memberikan penjelasan yang detail. Banyak sudah diskusi terkait ni sampai capek dengarnya.

Tapi persoalan ini semakin memprihatinkan karena telah menyentuh level pendidikan paling dasar: Sekolah dasar (bukan berarti kecurangan di SMP dan SMA/SMK kita abaikan). Pada tingkat SD, pendidikan ketegasan moral terkait persetujuan mana baik dan buruk sedang dibangun. Baik buruk harus diberi batasan yang jelas, hitam dan putih. Jika tidak, anak-anak akan tumbuh dengan bias moral, pupus pengetahuan nilai baik universal dan menghancurkan keteguhan memgang prinsip kebenaran.

Dari penjelasan ini, yang penting ingin saya sampaikan sebenarnya adalah tentang keprihatinan saya pada anak-anak. Sepertinya saat ini memang pilar batas anak-anak dan orang dewasa sudah mulai roboh. Seperti yang saya tulis di paragraf pertama, berita contek massal ini sama aktualnya dengan kasus korupsi. Gempitanya sama, nilai yang dirobohkan juga sama, yakni kebenaran tentang berbuat jujur.

Saya ingin bertanya, masihkah kejujuran ini relevan kita sebut sebagai kebenaran? Kalau jujur itu tidak mesti benar, sejak anak-anak harus kita kasih tau. Caranya? Ajari mereka nyontek bareng-bareng. Tidak perlu takut. Ada guru dan para orangtua yang ‘membenarkan’ dan membela ketidak jujuran ini. Sama seperti partai politik yang membenarkan dan membela anggotanya yang korupsi. Ini benar menurut mereka untuk memuluskan penguasaan politik. Dua generasi yang terpaut jauh itu sama-sama sedang mengusung kebenaran baru, bahwa kejujuran pada saat tertentu bisa kita taruh di laci meja paling bawah.

 Tilisan ini juga saya sampaikan di blog saya: mojolangu.blogspot.com

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 18 Juni 2011, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Ingat kata Pak Rinekso dalam bedah buku Jangan Goblok Melakoni Hidup, “orang jujur hari ini dikatakan goblok. Banyak orang korupsi kok tidak melakukan korupsi, Goblok itu”…..

  2. itu tdk lepas dari contoh yg d berikan para pejabat negeri ini.
    orang ju2r mlah d singkirkan dari bumi pertiwi,,,

  3. bg aku mau nyontek bg?
    ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: