Sosiologi, Ilmu Banyak Peminat?


Rachmad K Dwi Susilo

Dosen Sosiologi UMM

Sangat menarik mempelajari sosiologi, saudara-saudara, sebab ternyata saya menemukan beragam peminat dengan beragam karakter. Selama saya belajar tidak kurang ada tuh..8 pasang kelompok yang kurang lebihnya bisa dijelaskan sebagai berikut.

 1. Kelompok Jadul Versus Kelompok Mutakhir.

 Kelompok pertama yakni orang-orang lama yang pengalaman sosiologi dan dibesarkan dari teori klasik, hingga sampai gelar Dr. Giliran ada teori2 baru, sudah keburu tua, gak kuat meng-update teori-teori baru. Ciri-cirinya menganalisa fenomena sosial sekarang, eh tak tahunya memakai buku-buku ”jaman mojopahit”. Seperti bukunya Wertheim, Clifford Gerrtz, Sartono Kartodiharjo, Selo Soemardjan dan lain-lain. Jangan-jangan cerita analisa amuk masa di NTB kemarin masih pakai teori-teori barat sebelum Perang Dunia I. Atau menganalisa anak-anak ”korban” face book pakai teori Snouck Horgronye…ha..ha.

 Sedangkan, kelompok kedua biasanya berusia muda yang kebanyakan berwatak idealis. Mereka melawan pemahaman sosiologi orang-orang tua. Mereka tidak mau belajar teori-teori klasik yang dituduhnya tidak lebih sebagai ”fosil”. Mereka lebih gagah kalau menganalisa realitas sosial menggunakan teori-teori baru. Kayaknya, lebih mentereng dech, mengutip Foucoult, Habermas, Giddens, Lacan, Barthes ketimbang Ferdinand Tonnies, Weber atau Durkheim. Kelemahan kelompok kedua kadang tidak paham peta teori sosiologi dan cenderung jargonistik.

 2. Kelompok Pendukung Teori mainstream versus Pendukung Teori Substantif.

 Dalam kelompok pertama gak mantap sosiologisnya kalo tidak mengembangkan teori2 yang terkenal dalam sosiologi. Setiap membahas kasus apakah itu di bidang kesehatan, industri, lingkungan, ekonomi atau bahkan yang belum dimasuki sosiologi, pasti dicari dan kembalikan ke tokoh-tokoh sosiologi dari Durkheim sampai Giddens. Payahnya kalau orang ini tidak mengerti peta teori, akibatnya seperti kasus yang menimpa teman saya, penelitian internet dianalisa pakai teori Karl Marx?” Atau tukang becak yang beragama Kristen banyak penumpang terus kita analisa memakai teori Protestant Ethic and Spirit of Capitalism?

 Sedangkan kelompok pendukung teori substantif berpendirian bahwa tidak harus menganalisa masyarakat dengan teori-teori sosiologi yang sudah mapan. Asalkan masih berperpektif sosiologi, apapun teorinya boleh diambil. Tidak masalah teori itu berasal dari ilmu-ilmu manakah.Adabenarnya juga lho kelompok kedua, coba perhatikan, konsep2 seperti modal sosial (social capital) atau jaringan sosial (social network) apakah lahir dari teori-teori besar? Oleh karena itu kalau bicara, globalisasi misalnya, tidak harus pakai teori Giddens, boleh juga pakai teorinya Joseph Stiglitz atau George Soros tuh…

 3. Kelompok yang Membenarkan Struktur dengan Kelompok yang ”Mengkritik” Struktur.

 Kelompok yang membenarkan struktur pokoknya teori-teorinya memuja-muja struktur. Kalau meneliti, kesimpulan banyak yang dihasilkan terhubung dengan hal-hal yang harmonis, keseimbang atau equilibrium. Kalau sekarang masyarakat rusak, tidak mau mengakui memang dasarnya rusak, tetapi selalu dicari: mana yang rusak? Bagaimana cara mengembalikan ke keadaan awal? Tema-tema yang diambil seperti: pentingnya agama dalam menciptakan Indonesia yang makmur. Pentingnya moralitas atau pentingnya Pancasila dalam memberantas KKN. Gambarannya, seperti dinyatakan salah satu ketua partai politik, ”marilah capaian pembangunan ini kita syukuri, kita teruskan, jangan sampai negara kita menjadi seperti tahun 1998…Wuah, hati-hati ada kepentingan tersembuyi Mr. ini? Jangan-jangan itu manipulasi orang-orang yang memiliki kekuasaan saja yang biasanya bermental status quo? Seperti inilah pertanyaan-pertanyaan kelompok yang mengkritik struktur.

 Paling halus mengatakan, kalau bicara masyarakat jangan hanya sisi keseimbangannya saja dong, ada juga tuh sisi konfliknya. Jangan ditutup-tutupi ya? Justru, banggalah jadikan itu sebagai kajian tersendiri.

 Mengapa mengapa muncul 2 kelompok tersebut?

 a. Alasan teoritis. Pikiran, tindakan dan sikap kelompok tersebut merupakan konsekuensi dari paradigma yang dipilih kata Mr. Ritzer dalam buku lama sampul biru yang diterjemahkan Mr. Alimandan.

 b. Alasan praktis, maksudnya pendukung tersebut pada posisi mana? Kalau anda dalam posisi yang diuntungkan, ya biasanya masuk kelompok pertama, tetapi kalau tertindas atau teraniaya biasanya suka masuk kelompok kedua. Mr. Andi Arif dulu mantan aktivis mahasiswa yang galak jaman Soeharto, tapi sekarang menjadi orang ”manis” yang menjadi staff khusus Presiden. Kau tahu khan yang aku maksud?

  4. Kelompok yang Suka Lapangan versus Kelompok yang Suka Ziarah Kubur.

 Teori sosiologi klasik-modern merupakan kelompok I. Kewajiban sosiologi harus berdialog dengan realitas. Tuntutan ini sudah harga mati tidak bsia ditawar-tawar. Logis juga bukan? Coba bayangkan, apakah mungkin teori yang diketemukan dari barat, dilahirkan zaman sebelum Perang Dunia II, kok dipakai untuk analisa sekarang yang udah abad internet? Kau sosiolog bisa dialog dengan lapangan bisa menemukan grand theory atau menemukan hukum universal, seperti diwasiatkan Mr. Parsons. Atau memaknai realitas (mewartakan realitas) seperti diwasiatkan Mr. Weber. atau mau merubah realitas (sosiologi praxis, gitu loh…)..seperti kata Mr. Marx.. Atau mengetes teori-teori, seperti dilakukan Mr. Robert K. Merton, middle range theory, gitu loh…..

 Sedangkan, kelompok ziarah kubur suka jalan-jalan dari teks-ke teks. Misalnya, teks Hegel, trus ke teks Feurbach, trus ke teks Karl Marx, trus ke Teks Engels, trus ke teks Lucaks, trus ke teks Gramsci, trus ke teks Lenin, teks Stalin, teks Mao Tsedong dan seterusnya sampai DN Aidit. Pokoknya tokoh-tokoh sosiologi yang biasanya dah pada meninggal diziarahi semua. Mungkin, sosiologi postmodernisme, postrukturalisme dan postkolonialisme termasuk kelompok kedua. Kalau ditanya, mengapa gara-gara masalah air masyarakat di sini kok gegeran terus, bahkan sampai bacok-bacokan? Bagaimana mengatasinya? Jawabnya, pasti: sebentarlah kita diskusikan dulu! Tunggu dulu, kita wacanakan sampai tuntas…..Kata kelompok pertama, ”kesuwen, rumah keburu terbakar kok masih berteori?”.

 5. Kelompok yang Kompeten Pada Satu Sosiologi versus Kelompok Serba ”Bisa”.

 Kelompok yang I menyatakan tidak mungkin belajar masyarakat 100%. Jagadnya masyarakat yang begitu lebar, tidak mungkin ditangkap otak kita yang udah kemasukan produk-produk pabrik, kali. Karena itu seorang sosiolog harus mengambil satu kajian dan menguasainya. Kalau sudah komitmen mempelajari sosiologiKota, tentu bisa menjelaskan: sejarah sosiologikota, konsep-konsep kunci yang berkembang, teori-teori dominan dan isu-isu menarik, baik isu lokal maupun internasional. Ibarat, menggambarkan binatang yang bernama Dinosaurus, sangat paham betul kepalanya, badannya, ekornya, kakinya, kukunya, makananya, ngamuknya dan lain-lain.

 Sedangkan kelompok kedua mengatakan semua aspek masyarakat harus dipelajari. Tidak sadar ia suka jalan-jalan dari satu kajian ke kajian lain. Belum lagi kalau udah masuk ke kesibukan penelitian yang dibiayai pihak-pihak lain alias mroyek, tambah tidak fokus. Kalau ditanya: di dalam sosiologi, sampeyan kompeten apa? jawabnya : semua saya bisa, tinggal saudara butuh apa? Wuih, kayak supermarket aja boss!

  6. Kelompok yang dari Sosiologi Mempelajari Ilmu2 Lain versus Kelompok Yang Dari Ilmu Lain Ke Sosiologi.

 Kelompok yang pertama memang menemukan bahwa pada titik tertentu sosiolog harus belajar ilmu lain. Bukankah Auguste Comte, Herbert Spencer, Marx atauRobertEzraParkbukan sosiolog berlatar belakang? Jadi kepentingan untuk menguasai dan memperkaya kajian tertentu, harusnya sosiologis bisa mengintegrasikan diri ke ilmu-ilmu lain dan menjelaskan posisinya dimana tuh?

 Sosiologi memang ilmu yang mempesona. Apakah karena sebagai ilmu sah yang berbicara masyarakat atau karena tidak asing dengan pengalaman orang, maka dianggap mudah, maka banyak orang yang eksodus masuk ke ”kerajaan” sosiologi. Mereka apakah yang sebelumnya dari ilmu eksakta atau dari yang sebelumnya berlatar belakang ilmu sosial non sosiologi. Mereka, apakah yang sebelumnya suka berfilsafat atau merenung atau mereka dari praktisi. Gak enaknya, nih…bisa karena gak percaya diri dengan basis ilmunya ato kebetulan otodidak baca-baca buku sosiologi, trus jadi sosiologi ”jadi-jadian” ..Termasuk, mereka yang dari ilmu tidak marketable, trus banting setir ngaku-ngaku sosiolog.

 7. Kelompok yang Sosiologi Minded versus Kelompok yang Masuk Ke Cabang-Cabang Ilmu Lain

 Kelompok pertama pasti ngechek pengetahuan sosiologis dengan pertanyaan: sosiologisnya mana? Bangganya dengan kajian sosiologi melebih rata-rata, sekalipun terhenti pada perasaan ya bangga itu, tanpa produk pemikiran yang jelas apakah yang telah dihasilkan.Terus, kebanggan itu diwujudkan: harus pakai konsep sosiologis. Pokoke asal ada kata sosial, sosiologis! Kebobrokan sosial, perselingkuhan sosial, dan sosial-sosial yang lain. Kalo bicara pertukaran dengan istilah managemen bersama, dianggap itu tidak sosiologis. Bahkan kadang gak ilmiah, kalo ada yang bicara birokrasi dikatakan itu wilayah IP. Kelompok yang kedua biasanya juga menganut ”cultural studies”. Kata mereka (termasuk Mr. Ritzer) gak ada lagi tuh sekat2 ilmu sosial, semuanya cair. ” Multidisiplin is the best”.

 8. Kelompok yang Suka Konsep Primordial versus Kelompok Sekuler.

 Kelompok ini menyatakan kalo teori2 teori sosial itu kafiir. Tokoh-tokohnya banyak orang yahudi.Tidak Islami, karena itu perlu diganti teori-teori Islam dari tokoh-tokoh muslim. Janganlah Max, Weber, Comte, tetapi pakailah Hasan Al Bana, Yusuf Qordhowi, Al Ghazali dll. Bahkan, kalau perlu teori sosiologi diganti Al Qur’an atau hadist. Termasuk, kelompok ini dari kalangan Jawa mungkin menyatakan pakai saja tuh Ronggowarsito atau Mangkunegoro IV. Keduanya juga sosiolog, lho. Primordial bisa karena agama atau suku tertentu.Asalkan kelompok I masuk ke pribumisasian sosiologi, it’s okey, tapi kalau hanya perasaan kesukuan (ashobiyah), khan mboten sa’e tumrap sedoyo.

 Kemudian, kelompok sekuler gak mau kalah, mereka menyatakan teks-teks agama atau kesusastraan jawa tingkatnya belum masuk ke teori. Mungkin lebih tepatnya baru menjadi pengetahuan (knowledge) yang harus melalui proses saintifikasi. Lha, apakah pernah teori-teori besar lahir dari sumber-sumber tersebut? Memang Syari’ati bisa melahirkan dialektika habil qobil atau Al Farabi menghasilkan Al Madinah Al Fadhillah-nya. Tapi, ilmuwan yang lain?…………………

 To be continued, insya allah! Monggo dipun unjuk wedang jahenipun!

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 14 Juni 2011, in Pencerahan. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. trima kasih mas ari..viva sosiologi!

  2. Membaca tulisan ini menggugah kita bwt sedikit merenung, ternyata sering kita gak sadar terjebak pada kekaguman satu teori tertentu, lalu sulit melepas dari jeratan teori itu. akibatnya kita lupa bahwa ada banyak teori sosial yang boleh/bisa kita baca secara bebas, dan kita punya kuasa untuk menilai dan mempergunakan teori tu bwt mencerahkan pemahaman ita pda realitas sosial yg dinamis. Bahasnya asyik, sederhana, gak bulet kayak tulisannya orang2 kelewat pinter. Makasih pak…

  3. apik tulisane.. ora koyok tulisanku..

  4. teori terbaru untuk menganalisa peziarah kubur, apa pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: