“Perdamaian” Nietzche dengan Islam


Faqih Al Asy’ari

Sosiologi 08′

Nietzsche dikenal sebagai Sang Pembunuh Tuhan. Kutipan kalimatnya yang terkenal adalah “Tuhan telah mati, kita telah membunuhnya”. Bagi Nietzsche, Tuhan hanyalah ide buatan manusia untuk mendapatkan kepastian dalam ketidakjelasan. Ide Tuhan menurutnya membuat manusia tidak mengahargai kehidupan, tetapi justru memuja kehidupan lain yang absurd. Gara-gara ide ketuhanan ini membuat manusia lemah.

Tidak heran sepintas kita mendengar Nietzsche, maka yang terbayang di otak kita adalah filsafat Nihilisme Nietzsche dengan provokasi kritiknya akan pemikiran Plato dan tradisi kekristenan. Lantas bagaimana dengan Islam? Konsep ketuhanan sebagai bagian dari esensi bergama sudah pasti mendapat tentangan darinya. Tetapi khusus Islam, ada sebuah “ketidakjujuran” yang ingin disampaikan. Begitu yang tersirat dalam buku tulisan Ian Almond ini.

Almond menulis bahwa sebenarnya tidak ada sama sekali monograf yang membahas Islam pada semua tulisan Nietzsche. Akan tetapi terdapat ratusan hal yang bernuansa Islam dalam Gesamutausgabe [himpunan karya Nietzsche]. Satu bagian dari tulisan itu adalah ketika Nietzsche sedang mencari-cari perumpamaan untuk melampiaskan kritiknya terhadap kekristenan,  lantas ia mengetengahkan nama Muhammad.

Inilah “lubang sempit” – bahasa Ian Almond, untuk menghubungkan pemikiran Nietzsche dengan Islam.  Hasrat Nietzsche untuk memperoleh apa yang ia sebut “mata yang melampaui Eropa” – sesuatu yang dianggap bakal menyelamatkan dirinya dari kepicikan kebanyakan orang Eropa pada masa itu. Nietzsche menulisnya untuk seorang kawan, Koselitz pada tahun 1881: “Tanyakan pada sobat lama Gresdorff, maukah ia pergi bersamaku ke Tunisia selama satu atau dua tahun …Aku ingin hidup untuk beberapa waktu bersama orang-orang Muslim, di suatu tempat di mana mereka mempraktekkan keimanan mereka dengan saleh…” (hal.4).

Gambaran simpatinya – atau ketertarikanya untuk meneliti, terhadap Islam juga tercermin dari sikap yang terus-menerus diumbar dalam karya-karyanya, yakni penolakan Nietzsche terhadap alkohol (hal.17). Meski bisa saja antipati Nietzche ini lebih dikarenakan pendirian filosofisnya menentang kekristenan yang menyangkal kenyataan ketimbang kepada objek yang memabukkan itu. Tetapi dalam paragraf singkat yang tak lazim tersebut, Nietzche menyatakan orang Muslim adalah “bagian dari kita” (hal.16).

Ketertarikan Nietzsche sangat jelas tampak saat pilihan-pilihan yang ia suguhkan sendiri dalam tulisannya. Ian Almond menulis, Jika disuruh memilih antara orang Arab atau Yahudi, Islam atau Kristen, maka Nietzsche lebih memilih orang Arab dan Islam. Nabi Muhammad dianggap Plato-nya orang Arab karena kemampuannya yang luar biasa. Muhammad di mata Nietzsche merupakan an affirmative Semitic religion yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang tegas sebagai sebuah suri tauladan.

Namun begitu bukan berarti ia membunuh sendiri tulisannya tentang “kematian Tuhan”. Sebagaimana pandangan terhadap semua ketuhanan, pandangan negatif dan serkastis Nietzsche terhadap Islam berangkat dari premis bahwa agama merupakan alat manipulasi. Nietzsche menyinggung rumusan do’a: “Biarkan mereka, para rahib di Tibet tetap berkomat-kamit ‘om mane padme hum’ hingga tak terhitung … atau menghormati Wisnu dengan ribuan nama, atau Allah dengan 99 nama; atau biarkan mereka memanjatkan doa dan rosario: tujuan utama hal ini adalah menyibukkan para penganutnya dan membuat mereka tidak macam-macam (hal.21)”.

Sebenarnya buku ini tidak hanya menyuguhkan pandangan Nietzsche semata tentang Islam. Sesuai judulnya, ada Faucolut dan Derrida dengan segala cara penglihatan penuh stereotipnya terhadap Islam. Faucoult menunjukkan kekagumannya dengan Revolusi Iran. Ia menyatakan bahwa Revolusi di Iran itu merupakan “kegilaan Iran” karena dahsyatnya kekuatan Iran untuk membebaskan diri dari hegemoni Barat.

Sementara Derrida sedikit sekali berminat terhadap Islam, kecuali tidak lebih dari setengah lusin tulisannya yang menyinggung tentang fundamentalisme. Sebagaimana Yudaisme, Derrida melihat Islam sebagai kantong perlawanan terhadap “globalatinisasi” dunia, suatu gelombang modernitas yang menyerang dunia. Dari pandangan penuh stereotip terhadap Islam ini, setidaknya Faucoult dan Derrida “berdamai” dengan Islam sebagai basis perlawanan terhadap hegemoni Barat.

Bahkan Faucolut menyatakan bketidakpercayaan bahwa masa depan filsafat berada di Barat. Faucoult merasa beruntung bahwa ia tidak mengalami peristiwa 1 Mei di Prancis. “Sungguh, apabila filsafat terbentuk dimasa mendatang, maka ia akan lahir di luar Eropa, atau sebagai konsekuensi pergesekan Eropa dengan non-Eropa”.

Judul Buku          : Nietzsche Berdamai dengan Islam, Islam dan Kritik Modernitas Nietzsche, Foucault, Derrida

Penulis                 : Ian Almond

Penerbit              : Kepik Ungu

Cetakan               : I, April 2011

Tebal     : xxxiv + 106 Halaman 

About sosiologiumm

Faqih Al Asy'ari

Posted on 13 Juni 2011, in Konflik, Postmodern, Resensi, Sosiologi Modern. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: